Melepaskan

Standar

Ada orang yang begitu tidak puas dengan keadaan hidupnya. Ia frustasi dengan anak-anaknya. Atau ada yang putus asa karena bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya. Ada juga yang merasa depresi karena sikap pasangan hidupnya, sementara yang lain merasa stress dan tertekan karena belum menikah, padahal usia sudah mengejarnya.

Orang-orang seperti ini selalu berusaha untuk memahami segala sesuatu dan terus bertanya kenapa terjadi seperti ini. Mereka terus berusaha untuk mengubah segala sesuatu yang hanya bisa diubah oleh Tuhan.

Anda tahu, bahwa kitalah yang menciptakan sebagian besar dari ketidakbahagiaan dan frustasi kita dengan dengan terus tinggal dalam situasi tersebut dan terus berjuang melawan keadaan itu.
Kita perlu belajar untuk melepaskan diri dari keadaan yang membuat kita tertekan. Melepaskan tekanan tidak berarti melepaskan impian. Melepaskan tekanan tidak lalu berarti melepaskan pengharapan.

Belajarlah untuk tenang dan melepaskan diri dari tekanan dengan mulai menerima keadaan kita. Memang keadaan sekarang mungkin masih biasa-biasa saja, belum terjadi sesuai apa yang kita impikan. Bahkan mungkin lebih buruk lagi. Kita memiliki sesuatu yang ingin kita ubah, yang kita inginkan sesuatu benar-benar terjadi.  Berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun kita berdoa dan keadaan itu tidak juga berubah.  Kita berteriak, kita menangis, kita menengking tapi tidak berubah juga.

Firman Tuhan berkata dalam Mazmur 46:11 “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”  Dia Allah. Dia sanggup. Kita Cuma perlu berdiam diri dan menaruh terus dalam ingatan dan hati kita bahwa Dialah Tuhan. Dia Sang Pencipta. Dia Maha Kuasa. Dia mampu mengerjakan segala sesuatu. Tidak ada yang mustahil bagi Dia.

Kita tidak perlu setiap lima menit sekali berteriak mengingatkan Tuhan apa yang harus Dia buat. Mulailah melepaskan keadaan itu. Mulai melepaskan kekerasan hati kita untuk mengerjakan segala hal sesuai dengan keinginan hati kita sendiri. Mulailah melepaskan hak kita untuk menuntut kehidupan yang menurut kita nyaman bagi kita. Kekerasan hati kita hanya akan menghambat Tuhan bekerja. So, lepaskan itu.

Ketika kita melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan diri kita, kita akan terlepas dari tekanan. Dan ketika kita terlepas dari tekanan, kita akan mulai dapat menjalani hidup dengan lebih baik.

Mungkin masalah masih tetap sama. Impian masih belum digenggaman. Tapi satu hal yang pasti berubah yaitu sikap kita.

Dan ketika sikap kita berubah, tekanan menjadi berkurang. Hidup akan berjalan lebih mudah.

Karena Tuhan hanya mau memberkati dan memberikan apa yang menjadi hasrat kita ketika kita telah benar-benar siap untuk menerimanya. Siap secara rohani, siap secara fisik, juga siap secara mental.

Tuhan tidak pernah mau memberkati kita jika berkat itu hanya akan membuat kita jauh dari pada-Nya. Tuhan ingin setiap keadaan yang terjadi dalam hidup kita, membuat kita lebih dekat dan melekat kepada-Nya.

Mulailah melepaskan tekanan dan mulai mempercayai-Nya. Setiap kali pikiran-pikiran yang membuat kita tertekan menghampiri kita, lepaskan itu.  Terus lakukan. Melepaskan dan melepaskan. Sampai Tuhan yang menaruh setiap impian dalam hati kita itu menyelesaikan bagian-Nya.

Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s