Sebuah Pengorbanan

Standar

Apa itu pengorbanan?

Pengorbanan adalah suatu tindakan melepaskan apa yang dimiliki tanpa perasaan terpaksa atau dengan sukarela. Dalam setiap pengorbanan pasti ada yang menderita kerugian (dikorbankan) dan ada yang mendapatkan keuntungan dari tindakan tersebut.

Pengorbanan Kristus mati di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia adalah kisah abadi sepanjang masa tentang sebuah pengorbanan terbesar dan tidak pernah ada yang dapat menandinginya.

Tidak ada satu catatan sepanjang sejarah umat manusia yang menuliskan peristiwa pengorbanan seperti itu.

Cerita tentang seorang penjaga rel kereta api yang mengorbankan anaknya demi menyelamatkan ratusan penumpang kereta api pun tidak dapat menandingi kisah pengorbanan Yesus.

Kisah via dolorosa bukan cerita dongeng. Bukan cerita pengantar tidur hasil rekayasa seorang pengarang terkenal.

Itu adalah kisah nyata seseorang yang rela memberikan tubuhNya untuk dihajar dan dicambuk sampai tulang-tulangNya yang putih terlihat dibalik dagingNya yang robek.

Kisah tentang seorang yang rela memikul salib berat sambil mendaki bukit dengan tubuh penuh darah dan tangan yang terentang kaku terikat erat menjadi satu dengan salib itu.

Yang kepalaNya ditancapkan mahkota berduri yang menusuk masuk melubangi sekeliling kepalaNya.

Yang lambungNya ditusuk tombak dan membuat pendarahan menjadi semakin hebat dialamiNya.

Dengan tancapan paku di telapak tanganNya, Dia terpaku di atas sebuah salib dan disejajarkan dengan orang-orang berdosa. Padahal sepanjang hidupNya tidak ditemukan satu dosapun yang dilakukanNya.

Ketika mulutNya tercekat dan kering kehausan, cuka asam yang diteteskan dibibirNya, membuat keperihan yang luar biasa ketika luka-luka menganga itu tersentuh tetesan-tetesan cuka.

KakiNya dipaku, jubahNya dirampas dan dijadikan barang undian, wajahNya diludahi, hinaan dan celaan dialamiNya.

Anak Allahkah Dia? Mengapa Dia tidak sanggup melepaskan diriNya?
Tapi Yesus terus mengatupkan mulutNya. Terus tinggal dalam ketaatanNya kepada BapaNya. Melakukan tugasNya.

Karena kasih Bapa yang besar bagi umat manusia, Yesus rela memberikan tubuhNya bahkan nyawaNya bagi keselamatan umat manusia.

Apa arti pengorbanan itu bagi kita?

Apakah karena kasih Bapa yang begitu besar, sehingga tidak jarang kita menyepelekan pengorbanan Yesus?

Kemudian tidak saja berbuat dosa tapi hidup di dalam dosa. Sambil berpikir kasih Bapa yang besar pasti akan menyelamatkan.
So, it’s okay untuk hidup dalam dosa. Toh, Bapa penuh kasih. Pasti Bapa akan menyelamatkan anak-anakNya.

Begitu murahkah pengorbanan Yesus bagi kita? Sehingga kita sering menyepelekan dan memanfaatkan kebaikan hati Bapa.

Ingat cerita anak yang hilang?
Yang meninggalkan bapanya dan pergi bersenang-senang sampai seluruh warisannya habis ludes dan hanya bisa makan makanan babi saja untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.
Lalu berjalan kemudian akhirnya kembali menuju rumah bapanya, dengan pakaian compang-camping.

Terselamatkan setelah hidup menjadi compang-camping, apakah itu yang kita inginkan? No!

Ingat cerita 5 anak dara yang bijaksana dan 5 anak dara yang bodoh?
Bagaimana hidup ceroboh dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk masuk dalam rencana penyelamatan.

Hidup dengan tidak tertib dan masa bodoh membuat kita tidak peka terhadap rencana Tuhan dan kehilangan kesempatan masuk dalam kemuliaan Bapa.

Ketika hidup dan segala kemudahannya membuat kita jauh dari Bapa, ingat salib Kristus. Jangan abaikan dan sepelekan pengorbananNya.

Ketika sentilan-sentilan kecil diijinkan Tuhan dalam hidup kita, itu karena Tuhan tidak ingin kita kehilangan kesempatan mendapat mahkota kehidupan yang telah dijanjikanNya bagi setiap kita yang setia.

KasihNya besar bagi kita dan tidak berkesudahan sepanjang hidup kita, itu benar. Tapi keputusan mau atau tidak menerima kasihNya ada di tangan kita.

Hanya tahu tentang pengorbanan Yesus di kayu salib tidaklah cukup. Tapi kita perlu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar Filipi 2:11.

Jangan buang kesempatan bagi kita untuk diselamatkan. Jangan sepelekan waktu yang masih Tuhan berikan dengan menjalani hidup kita dengan seenaknya.

Gunakan momen paskah tidak saja menjadi sebuah seremonial belaka. Sekedar bergereja dan makan Perjamuan Kudus menjadi ritual tahunan yang dilakukan dengan keluarga.

Markus 22:17 Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Paskah ini boleh menjadi saat terbaik bagi kita untuk mau meminta pengampunan Tuhan dan mengalami kasihNya yang menyelamatkan itu.

Lakukan sekarang. Don’t miss it.
Jesus loves you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s