Buka Kain Kabungmu!

Standar

Mana yang lebih dulu,telur atau ayam?

Pertanyaan ini sering membuat orang pusing tujuh keliling.

Sering kita dipusingkan oleh berbagai hal yang tidak begitu penting dalam hidup kita. Siapa yang salah atau siapa yang benar. Siapa yang berhak atau siapa yang tidak berhak. Siapa yang orang baik dan siapa orang jahatnya. Siapa yang korban atau siapa yang tersangkanya. Siapa pemenang dan siapa si orang yang kalah itu.

Hingga kita tidak melihat lagi tujuan Tuhan mengijinkan masalah datang dalam hidup kita.
Kita tidak bisa melihat lagi apa maksud Tuhan sebenarnya, ketika seakan-akan membiarkan kita masuk dalam kesesakan.

Sampai ketika kita diijinkan Tuhan untuk mengalami berjalan dalam lembah kekelaman selama berbulan bulan bahkan ada yang sampai bertahun-tahun, sisi manusia kita lebih sering kemudian mencari pembenaran diri.

Lalu manusia menjadi mudah cinta diri. Dan mulai mengasihani dirinya sendiri.

Lebih suka menempatkan diri menjadi korban dan dengan bangga menerima tatapan belas kasihan orang lain.

Seakan semakin penampilan kita semakin menderita maka semakin banyak orang berdoa bagi kita lalu kemudian kita menjadi merasa “menang” atas keadaan dan atas orang-orang yang membuat kita menderita.

Menjadi merasa sebagai orang yang benar atas keadaan itu. Merasa menjadi orang baik yang tidak berdaya ditangan orang-orang jahat yang berlaku curang.

Tapi tahukah yang sebenarnya?

Ketika Tuhan mengijinkan orang-orang mencurangi kita, saat itu Tuhan ingin menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan sanggup membuat orang-orang tersakiti seperti kita menjadi orang-orang yang berbahagia dan menang.

Buka kain kabungmu, bersukacitalah dalam masa kesesakanmu. Dan kita akan melihat kemenangan yang Tuhan berikan.

Karena jika orang-orang jahat bersukacita ketika melakukan kejahatan, kita justru dapat bersukacita ketika masuk dalam tekanan dan himpitan.

See? Siapa yang pemenang? Bukankah kita ditetapkan tidak saja jadi pemenang tapi bahkan lebih dari pemenang?

Bersukacita ketika mendapatkan hadiah itu hal biasa. Bergembira karena ada teman-teman disekeliling kita itu hal yang lumrah. Dapat tertawa ketika segala hal begitu mudah didapat, adalah hal yang tidak sulit.

Tapi orang-orang percaya justru memiliki kekuatan extra untuk bisa menjaga sukacitanya ketika masalah bertubi-tubi datang.

Orang-orang percaya bahkan mampu menjaga suasana hatinya tetap bersukacita ketika dia ditinggalkan dan ditolak orang yang dikasihinya.

Orang-orang percaya akan menggunakan masa kesesakan sebagai saat terindah dalam hidupnya untuk membuktikan kasih Tuhan yang nyata secara pribadi.

Amazing, kan?

Berhenti mencari penyebab semua kekacauan dalam hidupmu dan berhenti menangisi hidupmu yang penuh penderitaan.

Gunakan masa kesesakan ini sebagai moment tepat untuk mengalami hidup hanya dengan pertolongan Tuhan.  Mengalami kesaksian dan mujizat terjadi dalam hidupmu ketika harus berjalan dalam lembah kekelaman dengan segala problemanya.

Mari kita mau belajar bersukacita dalam pengharapan, dan bersabar dalam kesesakan, serta bertekun dalam doa (Roma12:12).

Hanya jika kita bisa menjaga hati kita tetap bersukacita, maka kita akan lebih mudah untuk melihat tangan Tuhan menuntun kita melewati lembah kekelaman dan merasakan penyertaan Tuhan sepanjang jalan kita. Serta mengalami sebenarnya kita adalah pemenang dan bukan korban.

Puji Tuhan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s