Rahasia Iman

Standar

Ada seorang perempuan Sunem yang memiliki seorang anak laki-laki dan pada suatu ketika anak laki-lakinya itu terserang sakit kepala mendadak. Penyakit itu secara tiba-tiba menyerang anak laki-laki itu dengan begitu hebat sehingga menyebabkan anak tersebut meninggal dunia. Bisa dibayangkan perasaan ayah dan ibunya ketika itu. Hanya dengan satu serangan mendadak, anaknya langsung meninggal. Apalagi anak ini diberikan Tuhan kepada mereka disaat usia ayahnya sudah tua dan setelah melalui penantian panjang dan lama.

Dalam II Raja-raja 4:8-37 kisah ini diceritakan bahwa ketika mengalami kehilangan anak, perempuan sunem ini kemudian melihat mujizat Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Dalam kesusahan dan kepedihan hati karena kehilangan, perempuan sunem ini mampu menunjukkan sikap iman yang benar. Dia mampu mengendalikan perasaan sedih dan terlukanya. Dia mampu membuka mata imannya dan tetap terus menguatkan iman suaminya  untuk tidak kuatir. Padahal saat itu dia tahu bahwa anaknya sudah mati. Sudah tidak mungkin disembuhkan. Sudah terlambat. Tapi meski kenyataan anaknya telah terbaring kaku, perempuan ini tetap percaya keselamatan jiwa anaknya.

Iman perempuan ini diperhitungkan Tuhan sebagai sebuah kebenaran. Mujizat terjadi tepat seperti iman perempuan itu. Anaknya selamat!

Banyak kali kita diperhadapkan pada kondisi seperti ini. Keadaan seakan sudah terlambat, tidak tertolong lagi. Penyakit sudah terlalu parah dan dokter-dokter sudah menyerah. Anak-anak yang begitu tidak terkontrol dan membuat orangtua tidak tahu harus berbuat apalagi. Kondisi ekonomi begitu buruk. Hutang terus menumpuk, sudah tidak tahu bagaimana mau membayarnya. Rumah tangga yang mulai goyah, suami yang mulai kehilangan kasih pada keluarga. Keadaan begitu buruk dan semakin memburuk. Seakan tidak bisa diselamatkan lagi.

Kita semua tahu untuk tetap terus beriman meski kondisi kita jauh dari harapan. Kita semua  tahu kepada siapa kita datang dan membawa masalah kita. Kita tahu kepada siapa pengharapan itu kita gantungkan. Mengapa mujizat itu tidak terjadi juga?  Tapi, mengapa kita gagal mengalami mujizat?

Mari kita mempelajari rahasia iman perempuan sunem ini yang membuatnya berhasil mengalami mujizat itu.

1.    Senang Melayani Tuhan
Perempuan Sunem ini senang menerima nabi Elisa dalam rumahnya. Dia menyediakan kamar khusus yang lengkap dengan perabotnya untuk nabi Elisa.  Perempuan ini tahu melayani Tuhan. Dan dia sangat suka melayani Tuhan.

Setiap kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengambil bagian dalam pelayananNya. Melayani Tuhan tidak saja berkonotasi dengan berkhotbah, pemimpin pujian atau pemain musik gereja saja. Melayani Tuhan dapat kita lakukan dalam segala bidang. Jangan dipikir hanya bertugas menjadi kolektan, usher atau bahkan mengatur parkir jemaat di gereja bukan melayani Tuhan.
Sekecil apapun bagian yang kita kerjakan untuk membantu pekerjaan Tuhan ada harganya dimata Tuhan. Mungkin kita bukan seorang yang pintar berkhotbah, tapi kita punya banyak waktu untuk terbeban bersyafaat bagi orang lain.  Mungkin juga kita bukan orang yang terbiasa berbicara di muka umum, tapi kita bisa menuliskan pesan-pesan singkat dan kesaksian hidup serta membagikan kepada teman-teman kita lewat sms, email atau lewat berbagai jejaring social seperti facebook atau twiter.

Layani Tuhan di market place dimana Tuhan percayakan kita bekerja. Apa saja yang kita kerjakan untuk memuliakan nama Tuhan dan dengan tujuan supaya Tuhan diagungkan dan kedahsyatanNya dapat diketahui banyak orang, itu adalah sebuah pelayanan.

2.    Hidup menjadi teladan
Perempuan Sunem ini tidak saja suka melayani Tuhan, tapi dia juga menjadi impact positif bagi suaminya untuk turut melayani Tuhan. Jika hidup keseharian perempuan ini tidak baik, pastilah sulit bagi dia untuk mempengaruhi suaminya ikut melayani Tuhan. Saya percaya pastilah dalam kesehariannya, perempuan ini adalah seorang istri yang bijaksana, istri yang penuh kasih, istri yang hidup takut kepada Tuhan. Hidupnya yang berbuah dapat menjadi kesaksian yang bisa diteladani suami dan orang-orang disekitarnya.

Hanya orang yang memiliki hidup yang berbuah saja yang bisa terus bertahan dalam iman dan pengharapan ketika kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

Karena ketika keadaan terburuk sedang terjadi dalam hidupnya, kasih tidak menjadi tawar; sukacita tidak lenyap; damai sejahtera tidak kemudian ikut hilang; tetap punya stock kesabaran dalam menanti pertolongan Tuhan; dalam kondisi kekurangan tidak kemudian menjadi tidak murah hati lagi; tetap menunjukkan kebaikan hati meski tersakiti hatinya; tetap tinggal dalam kesetiaan ketika dikhianati; tidak berubah menjadi kasar dan hilang kelemahlembutannya ketika kepahitan hidup harus dialaminya; tetap mampu menguasai diri dan tidak menjadi hilang kesabaran ketika seakan proses Tuhan berjalan begitu lambat.

Beriman tidak sekedar percaya saja bahwa Tuhan mampu menolong. Tapi orang yang memiliki iman pastilah hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Mau melihat mujizat dan hari-hari baik dalam hidup kita? Mulailah melakukan kehendak Tuhan; mulai senangkan hati Tuhan lewat pelayanan kita bagi Tuhan, mulailah memelihara buah-buah Roh dalam hidup kita. Dan kita akan melihat, mujizat bukan cerita dongeng saja. Tapi mujizat akan nyata dalam hidup kita. Menuai mujizat setiap hari, seperti bangsa Israel mengumpulkan manna setiap pagi. Selalu baru setiap pagi.

Haleluya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s