Rahasia Bejana Yang Terisi

Standar

Bacaan :2 raja-raja 4:1-7

Suatu hari Nabi Elisa bertemu dengan janda seorang nabi. Janda ini berkeluh kesah kepada Elisa tentang hidupnya yang berat. Kematian suaminya membuat dia terpaksa berhutang. Dan hutangnya sudah demikian banyak sehingga untuk melunasi hutang-hutangnya, anak-anaknya akan diambil untuk dijadikan budak. Dapat dibayangkan betapa berat hidup janda ini.
Wanita ini adalah janda seorang nabi, pastilah dia adalah seorang yang percaya kepada Tuhan. Pastilah dia mengerti kebenaran Firman Tuhan. Sebab itu dia mencari orang yang tepat untuk meminta pertolongan. Dia tahu akan ada pertolongan bagi orang yang berseru kepada Tuhan. Janji Tuhan jelas bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan orang benar dan membiarkan anak cucu orang benar itu meninta-minta roti (Mazmur 37:25). Janda ini meminta mujizat terjadi atas hidupnya. Dia memiliki iman dan pengharapan yang benar kepada Tuhan. Dan mujizat terjadi disana! Dari hanya sebotol minyak yang tersisa, Tuhan melakukan mujizatnya. Hutang-hutang sang janda dapat dibayar lunas, dan dia beserta anak-anaknya masih bisa melanjutkan hidup dari minyak yang tersisa. Luar biasa!

Mari kita lihat rahasia mujizat itu dapat terjadi :
1.    Menggali potensi diri
2 Raja-raja 4:2… Dalam keadaan kekurangan, janda ini menemukan sebuah buli-buli yang berisi minyak di rumahnya. Hanya itu satu-satunya yang tersisa yang dia miliki saat itu. Mujizat Tuhan dikerjakan  lewat  minyak dalam buli-buli itu. Banyak orang tidak bisa melihat potensi yang ada dalam dirinya. Padahal setiap orang diciptakan Tuhan masing-masing dilengkapi dengan talenta-talenta. Ada yang satu, dua bahkan ada yang sepuluh. Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang tanpa ada kelebihan dalam dirinya. Kita tahu banyak pelukis-pelukis dunia yang justru seumur hidupnya tidak pernah memiliki tangan. Bahkan ada seorang anak kecil yang buta, tapi bisa memainkan tuts-tuts piano tanpa kesalahan dengan hanya mendengarkan sekali saja sebuah lagu. Luar biasa Tuhan kita. Coba kita lihat potensi apa yang ada dalam diri kita, yang dapat dipakai Tuhan untuk membuat mujizat.

2.    Berani bertindak
Ay 3… Kemudian Elisa menyuruh janda ini untuk “pergi keluar” dan meminta sebanyak mungkin bejana kosong dari semua orang yang bisa dia jumpai. Sebagai seorang yang dikejar-kejar depth collector pastilah mental janda ini mulai lemah. Tidak mudah untuk berjalan keluar apalagi minta-minta bejana ke tetangganya. Rasa malu kadang menghantui kita ketika kita mau bertindak. Takut terhadap penolakan. Tapi janda ini, dia berani bertindak. Dia mengejar mujizat dengan memerangi rasa tertolak dan rendah dirinya.Dia keluar melebarkan peluang-peluangnya. DIa berjalan keluar untuk membuka kesempatan-kesempatan bagi Tuhan untuk mengerjakan mujizat atas hidupnya. Sekali lagi, mujizat bukan bim salabim!
Mujizat tidak akan pernah terjadi jika kita tidak memulainya. Mujizat terjadi ketika kita mulai mengerjakan mujizat itu.

3.    Menutup diri dari pengaruh negative
Dalam ayat 4 Elisa menyuruh janda ini untuk menutup pintu ketika sedang meluaskan Tuhan mengerjakan mujizat. Pintu bicara tentang masuknya input-input. Ketika input buruk yang masuk maka mujizat tidak akan bisa terjadi. Kita perlu menutup telinga rohani kita dari bisikan-bisikan kekalahan yang disebarkan iblis. Kita perlu menutup pikiran kita dari intimidasi iblis yang dapat melemahkan iman kita. Ketika kelemahan kita digunakan oleh si iblis untuk membuat kita merasa “kalah”, kita tidak akan dapat melihat diri kita sebagai pemenang. Penting menutup pintu dan setiap celah yang dapat digunakan iblis untuk mengagalkan rencana Tuhan atas hidup kita. Patahkah dalam nama Yesus, ketika iblis mulai mengintimidasi kita. Minta kuasa Roh Kudus untuk memenuhi hati dan pikiran kita agar tetap tenang dan penuh damai sejahtera.Tuhan tidak bisa bekerja ketika kita tidak percaya bahwa kuasa yang ada di dalam kita lebih besar dari yang ada di dunia. Tuhan perlu kerjasama kita. Mujizat terjadi ketika fokus kita tertuju kepada Si Pembuat mujizat bukan kepada masalah.  Mujizat dimulai dari pikiran kita. Ketika kita berpikir mujizat dapat terjadi, maka mujizat pasti akan terjadi. Pikiran kekuatiran hanya akan menggagalkan mujizat terjadi.

4.    Taat
Suatu kali saya gagal membuat kue, hanya karena saya mencoba melakukan improvisasi. Saya tidak taat dengan aturan-aturan cara membuat kue yang ada dalam resep itu, padahal sudah ditulis bahwa resep ini telah diuji coba lebih dahulu. Artinya resep tersebut telah melalui ujian dan percobaan dan berhasil. Saya harusnya percaya pada orang yang berhasil membuat kue itu lebih dahulu dari saya. Akibatnya gatot! Gagal total! Janda ini tahu bahwa dia tidak berpengalaman untuk membuat mujizat. Dia tahu dia bukan pembuat mujizat. Jadi dia perlu tunduk dan taat pada Pembuat mujizat itu. Tidak ada pilihan lain jika dia ingin melihat mujizat terjadi atas hidupnya. Step demi step diikutinya dengan tepat. Tidak ada yang terlewatkan. Tidak ada yang tidak dilakukan. Tuhan suka kepada umatNya yang taat. Kalau kita bilang ini “improvisasi”, Tuhan mengatakan itu adalah “pelanggaran”! No choice! Ingin mengalami mujizat? Taatlah pada Firman Tuhan.

Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s