Apakah Saya Mempunyai Kasih?

Standar

Selama ini saya berpikir saya adalah orang yang murah hati memiliki kasih. Sampai suatu ketika Roh Allah menuntun saya dan membuka mata saya untuk melihat hati saya. Saya benar-benar terperangah. Ketika dengan kasih dan kelembutan-Nya Tuhan mengingatkan saya lewat 1 Korintus 13. Ayat-ayat yang tidak asing bagi saya yang sudah saya kenal sejak masih sekolah minggu. Tapi hari itu begitu menohok hati saya.

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing…. “Ya benar Tuhan, apa gunanya kepandaian jika aku tidak memiliki kasih”, gumamku pada Tuhan.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna…. Aku terperangah. Teringat betapa berimannya aku ketika harus menghadapi sebuah pertandingan iman. Tapi kasih… apakah dalam setiap pergumulanku dan ketika aku berseru kepada Tuhan meminta kasih-Nya padaku, aku punya stock kasih juga buat musuhku?

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku… Aku mengingat ketika aku mudah tersentuh dan meneteskan airmata ketika melihat penderitaan orang lain. Dan tidak jarang ditengah kekuranganku pun aku masih membuka tangan dan menyalurkan berkat tanpa pernah berharap dia membalasnya… “Tapi, apakah itu kasih yang Engkau inginkan, Tuhan?” aku bertanya.

Lalu dengan lembut Tuhan menjawab, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; kasih itu tidak cemburu. Ketika engkau mempunyai kasih, engkau tidak akan menjadi mudah memegahkan diri dan menjadi sombong.  Kasih itu tidak akan melakukan  hal yang tidak sopan yang mempermalukan dirinya dan orang lain. Kalau kau memiliki kasih, kau pasti tidak akan mencari keuntungan bagi dirimu sendiri”.

“Ketika kau mengasihi, kau tidak menjadi seorang pemarah dan tidak akan menyimpan kesalahan orang lain dalam hatimu. Kau akan memahami kesalahan dan kekurangan orang lain, tidak mengungkitnya, malahan mengampuninya dan melupakan semua kesalahan yang orang itu lakukan padamu. Meski tindakan orang itu sangat merugikan dirimu, melukai hatimu dan mencabik-cabik harga dirimu. Kau akan mengabaikan penghinaan demi penghinaan yang ditujukan padamu. Kau juga tidak akan bersukacita karena ketidakadilan terjadi pada orang lain termasuk  pada musuhmu; orang  yang menganiaya dirimu. Tetapi dalam kasihmu kau justru akan bersukacita karena kebenaran Tuhan tegakkan”. Kata-kata lembutnya menyentakkan hatiku. Mengingat betapa aku sering berharap Tuhan membalas kejahatan musuh-musuhku dengan murka-Nya. “Oh, Tuhan… ampuniku”

“Dengan kasihmu itu, kau  akan dapat menutupi segala sesuatu serta tidak membongkar aib atau dosa orang lain. Kasih akan membuatmu terus percaya pada segala sesuatu dan bukan mencurigai Tuhan berlaku curang pada dirimu.  Dengan kasih kau akan selalu dapat  mengharapkan segala sesuatu terjadi, meski kenyataan didepan matamu tidak seperti yang kau harapkan. Sehingga kau tidak akan menjadi mudah kehilangan kasihmu selagi menanti hal-hal yang baik terjadi atas hidupmu”. Tuhan menegurku dengan kelembutan-Nya.

“Kasih akan membuat kau sabar menanggung segala sesuatu.  Mungkin tidak nyaman untukmu saat ini, tidak menyenangkan hatimu dan Aku tahu itu pasti sangat menyakitkan hatimu ketika engkau dipermalukan.  Tapi kasih akan membuatmu tetap sabar menjalaninya, anak-Ku. Sabar menanti sampai Aku selesai mengerjakan bagian-Ku”  Sentuhan tangan-Nya terasa dibahuku, memberi kekuatan untuk tetap sabar menanti-Nya.

“Aku mengasihimu, anak-Ku. Sehingga Aku tetap mengasihimu meski kata-katamu melukai hati-Ku. Aku masih terus mengampunimu ketika perilakumu menyimpang dari ketetapan-Ku. Kasih-Ku padamu membuat Aku terus mengharapkanmu akan kembali pada-Ku, meski sampai hari ini kau masih membelakangi-Ku.”  Dipeluknya aku dengan kedua tangan-Nya, yang … oh… tangan itu berlubang paku…

“Oh, Lord… Terima kasih untuk kasih-Mu yang sempurna bagiku. Terima kasih juga untuk kesabaran-Mu menanti aku belajar mengasihi dengan kasih yang tulus dan benar”.

One response »

  1. Ping-balik: 70 x 7 | MannaSorga's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s