Melepaskan Hak

Standar

Melepaskan Hak

Pada suatu hari ada dua orang perempuan sundal menghadap Raja Salomo. Kedua orang perempuan ini membawa seorang bayi yang sedang menangis karena pertengkaran keduanya. Mereka menghadap Raja Salomo karena salah seorang dari mereka mengadukan perbuatan jahat temannya kepada Raja.

“Paduka Raja, aku dan dia tinggal bersama-sama di sebuah rumah. Suatu hari, aku melahirkan seorang anak. Aku sangat sayang pada anakku. Dan tiga hari setelah aku melahirkan, dia melahirkan juga, Paduka.” Si perempuan mulai bercerita tentang kisahnya kepada Raja Salomo.

“Tapi Paduka, suatu malam ketika dia tertidur, dia tidur dengan sembrono dan menekan anaknya sendiri. Akhirnya anaknya itu mati karena tertindih tubuh ibunya. Ketika ia tahu anaknya mati, dia menukar anaknya dengan anakku. Sayangnya saya tidak punya saksi, Paduka. Di rumah itu hanya kami berdua saja” Dia meneruskan ceritanya.

“Bohong, Paduka. Jangan dengar ceritanya. Ini anakku” bantah perempuan yang satu lagi.

“Tidak, Paduka. Saya tidak berbohong. Saya tahu ciri-ciri anak saya, karena saya ibunya. Ketika saya bangun untuk menyusuinya, anak yang berbaring dipangkuan saya bukan anak saya, tapi anaknya yang telah meninggal. Itu anak saya yang ada padanya, Paduka.”

“Coba, Paduka lihat. Wajahnya mirip saya” Seru perempuan yang satu sambil mengangkat anak itu tinggi-tinggi dan menunjukkannya pada Raja Salomo.

“Hei, hati-hati. Itu anakku, nanti dia terjatuh”.

“Ini anakku. Anakmu sudah mati” bantah yang satu lagi.

“Tenang ibu-ibu. Ayo semua diam”.  Suara Raja Salomo menghentikan perang mulut kedua perempuan itu.

“Baiklah. Bawa anak itu kesini. Letakkan anak itu di meja itu”. Perintah sang Raja dengan suaranya yang berwibawa.

“Raja, apa yang akan Raja lakukan terhadap anakku?” Tanya perempuan yang melapor itu kepada Raja Salomo.

“Aku akan memenggal anak itu menjadi 2. Dan kalian masing-masing akan mendapatkan 1 bagian dari anak itu.” Kata Raja Salomo.

“Apa Raja? Raja akan memenggal anakku?” Perempuan itu berkata panik. “Tidak Raja. Jangan. Tolong jangan lakukan itu, Raja. Jangan bunuh anak itu. Biarlah anak itu untuk dia saja, daripada Raja membunuhnya. Jangan Raja. Tolonglah. Saya tidak akan bisa hidup jika Raja membunuhnya.” Isak perempuan yang melaporkan kejahatan temannya itu.

“Oh, Raja sungguh bijaksana. Memang sebaiknya dipenggal saja jadi 2. Supaya kita masing-masing mendapat bagian yang sama.” Kata perempuan yang satu lagi, sambil berjalan kea rah meja yang ditunjuk oleh Raja untuk meletakkan anak itu supaya bisa dipenggal dan dibagi 2.

Dengan hikmat dari Tuhan, tahulah Raja Salomo siapa ibu bayi itu sebenarnya. Lalu Raja Salomo berkata “berikan anak itu kepada ibunya yang sebenarnya.” Tidak mungkin ada ibu yang rela anaknya dibunuh, bukan?

Ada saat dalam hidup kita diperhadapkan pada kenyataan bahwa apa yang kita sayangi dirampas oleh  orang lain. Ada saat hak kita, milik kita yang paling berharga direbut oleh orang lain. Ketika kita mencoba untuk mengambil kembali, kita tidak memiliki kemampuan apa-apa. Bahkan mungkin sama seperti perempuan yang kehilangan bayinya, tidak memiliki saksi yang dapat memberikan kesaksian dan membelanya.

Tapi ketika perempuan itu melepaskan haknya, memilih melepaskan apa yang dicintainya, dan mengakhiri pertikaian tanpa pembelaan dari siapapun, saat itulah dia justru memberi kesempatan Tuhan membelanya lewat hikmatNya kepada Raja Salomo.

Sering  kita ada pada kondisi seperti ini, yang meminta kita untuk melepaskan hak kita atas milik kita yang paling berharga dan paling kita cintai. Tanpa perlawanan dan tanpa bisa membalas. Sebagai orang percaya kita dituntut untuk melepaskan pengampunan. Membalas kejahatan dengan kebaikan. (Kita telah belajar hal ini dari renungan-renungan terdahulu)

Tidak nyaman? Mungkin.
Mau tidak mau, inilah yang Tuhan tuntut kepada kita. Ketika kita difitnah, ketika milik kita dicuri, ketika hak kita dirampas, lepaskan itu semua. Karena disaat kita melepaskan hak kita, Tuhan memperhatikan kita dan bekerja membela kita.

Roma  8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Lihat apa yang dilakukan perempuan itu. Ketika dia berusaha dengan kekuatannya, dengan hikmat manusianya untuk merebut kembali haknya, dia justru akan kehilangan anaknya. Tapi ketika dia melepaskan haknya atas anaknya itu, dia justru memperoleh kembali anaknya.

Melepaskan hak bukan menyerah pada keadaan dan kalah. Ketika kita melepaskan hak kita yang direbut orang lain justru membuat kita menang atas keinginan daging kita untuk melawan dengan hikmat kita sendiri dan atas kemarahan yang hanya akan membawa kita pada dosa. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Dan sebagai anak Allah, kita akan mendapat pembelaan penuh dari Tuhan.

Halleluya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s