Bergantung

Standar

Seorang yang mau melakukan olahraga rock climbing diharuskan menggunakan perlengkapan keselamatan diri. Bahkan harus dengan sangat teliti dan secara rutin memeriksa peralatan keselamatannya. Sudah menjadi peraturan yang harus ditaati oleh setiap orang yang melakukan rock climbing untuk mengenakan sabuk keselamatan. Yang mengikat erat tubuhnya dan menghubungkannya dengan patok yang ditancapkan dengan kuat sehingga dapat  menahan berat tubuhnya.

Bisa kita bayangkan jika orang tersebut tidak terikat erat di tali keselamatan, dan ketika dia jatuh, dia akan meluncur ke tanah tanpa ada yang menahan. Atau ketika pijakan kakinya kurang mantap dia bisa terpeleset dan jatuh ke jurang. Dan patok itu harus cukup kuat tertancap, karena ketika pendaki tersebut hanya bisa bergantungan saja pada tali, patok itulah satu-satunya harapannya untuk bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Tanpa kita sadari, kehidupan keseharian kita seperti pemanjat tebing. Kita mendaki bukit-bukit batu. Berusaha memanjat tebing yang tinggi untuk mencapai tujuan hidup kita. Kadang kita menemukan batu pijakan yang kuat, tapi sering pula yang kita jumpai adalah batu-batu pijakan yang goyah dan tidak begitu kuat menahan kita.

Sehingga tidak jarang kita kemudian menjadi panik, ketika tidak menemukan pijakan yang pas. Ketika pijakan yang kita harapkan dan kita andalkan ternyata tidak sesuai dengan prediksi kita.
Batu pijakan dalam kehidupan kita baik berupa pekerjaan; back up seseorang yang berkuasa; harta dan kekayaan; kesehatan; ataupun keluarga. Ketika batu tempat berpijak itu kuat, kita ikut merasa kuat dan nyaman.

Tapi jika kita menjumpai pijakan-pijakan yang tidak kokoh dan bergoyang, kekuatiran kerap mudah menyerang. Terkadang, pijakan yang semula kita rasa cukup kokoh, kemudian secara tiba-tiba bergoyang. Sehingga membuat kita merasa tidak aman lagi. Damai dan sukacita jadi terganggu, dan pengharapan tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi keragu-raguan.

Sahabat, ketika kita menemukan batu pijakan kita bergoyang, segera periksa tali keselamatan kita. Apakah cukup kuat untuk menahan beban kita ? Apakah masih terhubung dengan sempurna pada patoknya? Ataukah patoknya sudah mulai bergesar? Selalu perhatikan apakah tali pengaman kita telah cukup kuat terikat. Dan apakah simpul-simpul tali tersebut tidak menjadi renggang karena waktu dan karena beban yang terus menerus?

Tali pengaman itu adalah iman kita, yang mengikat kita dengan erat dan membuat kita terus terhubung dengan patok yang ditancapkan dengan dengan kuat. Patok itu adalah Yesus. Yang menahan kita ketika kita kehilangan pijakan yang kokoh. Yang menahan beban kita ketika angin pencobaan meniup kita dan disaat itu kita hanya bisa bergantung pada kekuatan tali dan patok saja.

Ketika kita tidak menemukan pijakan yang kuat, atau ketika pijakan kita menjadi goyah karena berbagai masalah hidup yang menerpa kita, kita hanya bisa mengandalkan hidup kita pada tali penyelamat itu. Ketika tali penyelamat itu cukup kuat mengikat kita, maka meski kita tidak memiliki pijakan yang kokoh, kita tidak akan menjadi panik dan kuatir. Karena kita percaya, dengan aman tali iman itu menghubungkan kita pada patok penyelamat kita yaitu Kristus.

Yesus lah kekuatan kita. DIA sanggup menahan beban kita ketika kita bergantung padaNya. Andalkan Tuhan dan percayalah pada kekuatan-Nya.

I Korintus  2:5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s